3 Hoax Seputar Baterai Smartphone yang Masih Dipercaya Orang

Smartphone adalah gadget yang sangat populer karena kemampuannya yang luar biasa dalam memenuhi kebutuhan setiap penggunanya. Smartphone Android dijejali bermacam aplikasi menarik yang membantu hidup menjadi lebih mudah, sebut saja aplikasi peta, chatting, fotografi, editing foto dan video, dan lainnya. Tapi ada satu hal yang selalu membuat para pengguna smartphone merengut: soal daya baterainya.

Baterai Smartphone

Tak peduli berapa besar daya baterai yang dibenamkan dalam sebuah smartphone, pengguna tetap tak bisa selalu puas karena di akhir hari mereka akan kehabisan daya baterai. Penggunaan konstan sudah pasti akan menyedot daya baterai, apalagi jika smartphone terkoneksi ke internet. Para pembuat smartphone kini sudah mengembangkan fast charging alias metode pengisian daya cepat, tapi itu tetap tak menjawab tantangan tentang bagaimana cara menghemat daya baterai yang efektif.

Di tengah masyarakat, ada berbagai mitos tentang baterai smartphone yang sampai saat ini masih dipercaya secara luas. Mitos-mitos itu pun kini sudah dilabeli sebagai hoax alias informasi palsu. Inilah tiga di antaranya.

1. Pengecasan pertama harus lama dan dalam posisi mati

“Nanti kalau sudah sampai rumah hapenya dicas lima jam dalam keadaan mati ya,” begitu biasanya kata-kata dari sales atau penjual smartphone ketika kita pertama kali membelinya. Ini sebenarnya sudah tidak perlu dilakukan lagi mengingat baterai ponsel pintar sekarang bukanlah nikel kadmium, tapi lithium-ion yang jauh lebih modern dan tak perlu pengecasan berjam-jam di awal.

Nikel cadmium masih bekerja sesuai prinsip ‘efek memori,’ di mana baterai akan mempertahankan kapasitasnya di titik tertentu berdasarkan bagaimana dia diisi untuk pertama kalinya. Lithium-ion sudah tidak memakai teknologi jadul itu.

2. Baterai smartphone bisa tahan bertahun-tahun karena kecanggihannya

Baterai Smartphone2

Sebenarnya tidak ada baterai apapun yang bisa tahan selama bertahun-tahun tanpa aus. Semua baterai pasti aus dan menurun kemampuannya, termasuk smartphone.

Menurut penelitian, sebuah ponsel rata-rata akan berada dalam performa terbaiknya sekitar 300-500 siklus pengisian dan pengosongan daya sebelum kemampuannya menurun. Para ahli juga menyebut bahwa rata-rata baterai smartphone hanya bertahan sekitar dua tahun sebelum mulai menurun dan ‘ngedrop’ sepenuhnya.

3. Mengecas terlalu lama, apalagi semalaman, bisa merusak baterai smartphone

Ini adalah hoax yang sudah disangkal berbagai kalangan. Teknologi canggih smartphone tidak akan membuat baterai ‘keteteran’ menerima daya dari charger yang terpasang selama berjam-jam. Sistem baterai moden lithium-ion akan mengurangi dan bahkan menghentikan aliran listrik jika perangkat sudah terisi penuh.

Satu-satunya hal yang perlu diperhatikan hanyalah overheating alias smartphone kepanasan karena banyaknya tugas yang harus dieksekusi. Semakin banyak aplikasi yang menyala dan tersambung ke jaringan internet, maka bisa dipastikan ponsel Android akan makin panas dan baterai pun akan terkena imbas buruknya.

Komentar Anda