Wawancara: Ji Chang-wook dan Film Barunya, Fabricated City

Loading...

Ji Chang-wook Fabricated City

Aktor brilian Korea, Ji Chang-wook, memainkan karakter yang bukan mata-mata atau detektif dalam film laga terbarunya, Fabricated City. Meskipun karakternya hanyalah seorang pecandu game pengangguran berusia 20-an, ia dipaksa untuk menyelamatkan dirinya setelah dijebak menjadi pembunuh.

Sejak debutnya di tahun 2008, Ji Chang-wook telah ambil bagian dalam 12 serial TV dan tampil di panggung drama musikal. Meskipun ia baru mendapatkan peran utama pertamanya dalam film satu dekade setelah debut, ia tetap siap untuk menghadapi tantangan baru ini.

“Saya hanya akan melakukan sesuatu jika itu menyenangkan dan menarik,” katanya saat wawancara dengan M Magazine, afiliasi dari Korea JoongAng Daily. Berikut kutipan wawancaranya.


Tanya: Meskipun Anda sering terlihat di TV, melihat Anda di layar film terasa sedikit asing.

Jawab: Ya itu benar. Tapi anehnya, saya debut melalui film independen, Sleeping Beauty (2008). Setelah itu, saya tidak memiliki kesempatan untuk bermain film. Jadi ini adalah keputusan besar bagi saya untuk ambil bagian dalam ‘Fabricated City.’ Meskipun saya takut, ini adalah tantangan bagi saya.

T: Mengapa Anda takut?

J: Film ini menelan biaya hampir 10 miliar won, jadi saya tertekan dan merasakan tanggung jawab yang berat. Saya takut karena saya merasa film pasti berbeda dengan drama. Baru ketika saya tiba di lokasi syuting, saya merasa tenang dan menyadari bahwa akting untuk drama dan film tidak jauh berbeda. Semua aktor dan anggota staf berupaya semaksimal mungkin dan saya mendapat kepercayaan diri dengan berkolaborasi dengan mereka.

T: Apakah Anda memutuskan untuk membintangi film ini demi memperluas karir Anda?

Loading...

J: Tidak juga. Saya bukan orang yang sangat perhitungan. Saya sangat berhati-hati ketika memilih pekerjaan, tetapi hal yang paling penting bagi saya adalah apakah saya bisa menikmatinya dan juga bisa tampil baik. Ketika saya membaca naskah ‘Fabricated City,’ Saya tidak yakin apakah saya memiliki jenis kepemimpinan yang dimiliki peran saya. Ada juga beberapa adegan seperti kartun, dan saya tidak yakin apakah saya akan mampu merayu penonton. Tapi saya menjadi yakin untuk bergabung setelah bertemu sutradara, Park Kwang-hyun. Ketika Park dengan tenang meyakinkan saya, saya memiliki keyakinan bahwa film ini akan jadi menyegarkan.

T: Bisakah Anda bersimpati dengan karakter pengangguran Anda yang selalu terjebak di ruang game PC?

J: Ya saya bisa karena saya sering pergi ke ruang PC, toko buku komik, dan tempat karaoke ketika saya masih muda. Saya juga pengangguran di awal 20-an dan saya benar-benar seorang pemain game yang cukup baik, meskipun saya sekarang kebanyakan bermain game mobile. Jadi, tidak sulit bagi saya untuk bersimpati pada karakter saya.

T: Sutradara Park memberi pujian cukup tinggi pada adegan laga Anda. Bagaimana perasaan Anda?

J: Saya sangat tersanjung, tapi saya ingin berhenti mendengarkannya (tertawa). Saya tidak pernah secara sengaja memilih genre action. Ketika saya memilih sebuah pekerjaan karena karakter atau ceritanya yang menarik, selalu ada action. Mungkin itu selera saya. Meskipun itu pasti berharga, proses mempersiapkan adegan laga sangat keras. Dalam ‘Fabricated City,’ anehnya ada banyak adegan pertarungan. Ketika saya memfilmkan adegan-adegan semacam itu (di masa lalu), saya merasa tidak nyaman, jadi saya pikir lebih baik saya yang kena pukul. Namun, ketika saya benar-benar memfilmkan adegan di mana saya kena pukul, saya tanpa sadar menjadi sangat marah, yang akhirnya membantu saya untuk lebih fokus pada emosi karakter. Meskipun itu menyenangkan, saya tidak ingin melakukannya lagi (tertawa).

T: Bagaimana perasaan Anda tentang kewajiban militer Anda tahun ini?

J: Usia 20-an saya sangat sengit. Ada kesulitan dalam segala sesuatu yang saya lakukan, tapi pengalaman yang membuat saya kuat. Jujur, saya terbiasa memiliki rasa takut berada di depan kamera, tapi saya telah mengatasinya. Ketika saya melihat aktor-aktor yang lebih tua yang selalu mendapat peran utama, saya berpikir bahwa mereka pasti merasa seolah sudah memiliki segalanya di dunia. Tapi ketika saya akhirnya mencapai titik itu, saya bertanya-tanya ‘Apakah puncak (dalam karir seseorang) benar-benar ada?’ Meskipun puncaknya mungkin berbeda untuk setiap orang, saya pikir titik di mana seseorang merasa puas adalah klimaks dari karir seseorang. Sepuluh tahun terakhir saya memang memuaskan, tapi saya pikir saya bisa pergi lebih jauh lagi. Dunia ini besar dan tidak ada batasnya.

Loading...

Komentar Anda